Untaian Hikmah Imam Hasan al-Bashri
Hasan al-Bashri adalah diantara pembesar ulama
tabi’in menengah. Beliau wafat pada tahun 110 H dalam usia 88 tahun,
sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Hadi Rahimahullāh (lihat Thabaqāt
‘Ulamā’ al-Hadits, Juz 1 hal. 140-142). Abu Burdah berkata, “Tidaklah aku
melihat orang yang lebih mirip dengan para sahabat Muhammad Shallallāhu ‘alaihi
wa sallam melebihi dirinya.” (lihat Min A’lām al-Salaf, Juz 1 hal. 143), Abu
Ja’far Muhammad bin ‘Ali mengatakan, “Dia itulah -Hasan al-Bashri- orang yang
ucapan-ucapannya mirip ucapan para nabi” (lihat Min A’lām al-Salaf, Juz 1 hal.
144).
Guru dan murid beliau
Berikut ini sebagian guru-guru Hasan al-Bashri:
‘Imran bin Hushain, al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Bakrah, an-Nu’man bin Basyir,
Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Abdullah bin ‘Amr, Abu Hurairah, Anas bin Malik, dsb.
(lihat Min A’lām al-Salaf, Juz 1 hal. 150).
Berikut ini sebagian murid-murid beliau: Humaid
ath-Thawil, Ayyub as-Sakhtiyani, Qotadah, Bakr bin Abdullah al-Muzani, Sa’ad
bin Ibrahim, Ibnu ‘Aun, al-Mu’alla bin Ziyad, Yunus bin ‘Ubaid, dsb (lihat Min
A’lām al-Salaf, Juz 1 hal. 150).
Sebagian nasihat dan mutiara hikmah beliau
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata,
“Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu tertentu untuk
menyendiri, menunaikan sholat dan menasehati keluarganya pada waktu itu, lalu
dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa ‘dia
sedang ada keperluan’.” (lihat al-Ikhlās wa al-Niyyah, hal.65)
al-Hasan rahimahullāh mengatakan, “Kalau bukan
karena keberadaan para ulama niscaya keadaan umat manusia tidak ada bedanya
dengan binatang.” (lihat Mukhtashar Minhāj al-Qāshidīn, hal. 15)
Hasan al-Bashri rahimahullāh mengatakan, “Demi
Allah! Tidaklah tegak urusan agama ini kecuali dengan adanya pemerintah,
walaupun mereka berbuat aniaya dan bertindak zalim. Demi Allah! Apa-apa yang
Allah perbaiki dengan keberadaan mereka jauh lebih banyak daripada apa-apa yang
mereka rusak.” (lihat Da’ā’im Minhāj Nubuwwah, hal. 279)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Sungguh,
apabila aku dijatuhkan dari langit ke permukaan bumi ini lebih aku sukai
daripada mengatakan: Segala urusan berada di tanganku!” (lihat Aqwāl Tābi’in fi
Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān [1/134])
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata,
“Barangsiapa mendustakan takdir sesungguhnya dia telah mendustakan al-Qur’an.”
(lihat Aqwāl Tābi’in fi Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān [1/138])
Dikatakan kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apa
yang harus kami lakukan? Kami berteman dengan orang-orang yang selalu
menakut-nakuti kami sampai-sampai hati kami terbang melayang.” Maka beliau
menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya jika kamu bergaul dengan orang-orang yang
selalu menakut-nakuti kamu sampai akhirnya kamu benar-benar merasakan keamanan;
lebih baik daripada berteman dengan orang-orang yang selalu membuatmu merasa
aman sampai akhirnya justru menyeretmu ke dalam keadaan yang menakutkan.”
(lihat Aina Nahnu min Hā’ulā’i, hal. 16)
Ada yang berkata kepada al-Hasan, “Sebagian orang
mengatakan: Barangsiapa mengucapkan lā ilāha illallāh maka dia pasti masuk
surga.”? Maka al-Hasan menjawab, “Barangsiapa yang mengucapkan lā ilāha illallāh
kemudian dia menunaikan konsekuensi dan kewajiban darinya maka dia pasti masuk
surga.” (lihat Kitāb al-Tauhīd; Risālah Kalimāt al-Ikhlās wa Tahqīq Ma’nāhā
oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullāh, hal. 40)
al-Hasan rahimahullāh mengatakan, “Salah satu
tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan
dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat
al-Risalah al-Mugniyyah, hal. 62).
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Sesungguhnya
bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah
menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsīr al-Qur’ān
al-‘Azhīm [6/264] cet. Dār Thaibah)
al-Hasan rahimahullāh menangis sejadi-jadinya,
maka ditanyakan kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, apa yang membuatmu menangis?”.
Maka beliau menjawab, “Karena takut kalau Allah melemparkan aku ke dalam neraka
dan tidak memperdulikan nasibku lagi.” (lihat Aina Nahnu min Hā’ulā’i, hal. 75)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Wahai anak
Adam. Sesungguhnya engkau adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap hari berlalu
maka hilanglah sebagian dari dirimu.” (lihat Ma’ālim fi Tharīq Thalab al-‘Ilmi,
hal. 35)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata,
“Sesungguhnya orang yang fāqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan
sangat memburu akhirat. Orang yang paham tentang agamanya dan senantiasa
beribadah kepada Rabbnya. Orang yang berhati-hati sehingga menahan diri dari
menodai kehormatan dan harga diri kaum muslimin. Orang yang menjaga kehormatan
dirinya dari meminta harta mereka dan senantiasa mengharapkan kebaikan bagi
mereka.” (lihat Mukhtashar Minhāj al-Qāshidīn, hal. 28)
al-Hasan rahimahullāh mengatakan, “Orang-orang
yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan
Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.”
(lihat Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam, hal. 211)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Bukanlah
iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan,
akan tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan
amalan.” (lihat Aqwāl at-Tābi’īn fi Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān, hal. 1124)
al-Hasan rahimahullāh menafsirkan makna firman
Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.” Beliau mengatakan, “Kebaikan di
dunia adalah ilmu dan ibadah. Adapun kebaikan di akhirat adalah surga.” (lihat
Akhlāq al-‘Ulamā’, hal. 40)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “al-Qur’an
itu diturunkan untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang justru membatasi amalan
hanya dengan membacanya.” (lihat al-Muntaqā al-Nafis min Talbīs Iblīs, hal.
116)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata,
“Sesungguhnya orang yang benar-benar faqih/paham agama adalah yang senantiasa
merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat al-Muntaqā al-Nafis min Talbīs
Iblīs, hal. 136)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Tidaklah
memahami agamanya orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (lihat Aina Nahnu
min Hā’ulā’i [2/84])
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata,
“Sesungguhnya orang beriman bersangka baik kepada Rabbnya sehingga dia pun
membaguskan amal, adapun orang munafik bersangka buruk kepada Rabbnya sehingga
dia pun memperburuk amal.” (lihat Aqwāl al-Tābi’īn fi Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān,
hal. 1157)
Hasan al-Bashri rahimahullāh menjelaskan tentang
sifat orang-orang beriman yang disebutkan dalam firman Allah [QS. Al-Mu’minun:
60] yang memberikan apa yang bisa mereka berikan dalam keadaan hatinya merasa
takut. Al-Hasan berkata, “Artinya, mereka melakukan segala bentuk amal
kebajikan sementara mereka khawatir apabila hal itu belum bisa menyelamatkan
diri mereka dari azab Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (lihat Aqwāl al-Tābi’īn fi
Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān, hal. 1160)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Sebagian
orang enggan untuk mudāwamah [konsisten dalam beramal] . Demi Allah, bukanlah
seorang mukmin orang yang hanya beramal selama sebulan atau dua bulan, setahun
atau dua tahun. Tidak, demi Allah! Allah tidak menjadikan batas akhir beramal
bagi seorang mukmin kecuali kematian.” (lihat Aqwāl al-Tābi’īn fi Masā’il
al-Tauhīd wa al-Īmān, hal. 1160)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Iman yang
sejati adalah keimanan orang yang merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla
walaupun dia tidak melihat-Nya. Dia berharap terhadap kebaikan yang ditawarkan
oleh Allah. Dan meninggalkan segala yang membuat murka Allah.” (lihat Aqwāl
al-Tābi’īn fi Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān, hal. 1161)
Hasan al-Bashri rahimahullāh mengatakan, “Iman
adalah ucapan. Dan tidak ada ucapan kecuali harus disertai dengan amalan. Tidak
ada ucapan dan amalan kecuali harus dilandasi dengan niat. Tidak ada ucapan,
amalan dan niat kecuali harus dilandasi dengan al-Sunnah.” Aqwāl al-Tābi’īn fi
Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān, hal. 1153)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata,
“Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang
munafik.” (lihat Aqwāl al-Tābi’īn fi Masā’il al-Tauhīd wa al-Īmān, hal. 1218)
Hasan al-Bashri rahimahullāh berkata, “Seorang
mukmin memadukan antara berbuat ihsan/kebaikan dengan merasa takut. Adapun
orang kafir memadukan antara berbuat jelek/dosa dan merasa aman.”.” (lihat Tafsīr
al-Qur’ān al-‘Azhīm [5/350] cet. Maktabah al-Taufiqiyah).
Demikianlah sekelumit faidah yang bisa kami
sajikan dengan taufik dari Allah semata. Semoga bisa memberikan manfaat dan
pencerahan bagi kita. Wa shallallāhu ‘alā Nabiyyinā Muhammadin wa ‘alā ālihi wa
sallam. Walhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.
Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.
Artikel: Muslim.or.id
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60916-untaian-hikmah-imam-hasan-al-bashri.html
إرسال تعليق